Thursday, October 24, 2013

KELEBIHAN PUASA ASSYURA

Assalamualaikum wbt.

Innalhamdalillahi nahmaduhu wanasta’iinuhu wanastaghfiruhu Wana’udzubiillah minsyurruri ‘anfusinaa waminsayyi’ati ‘amaalinnaa Manyahdihillah falah mudhillalah Wa man yudhlil falaa haadiyalah Wa asyhadu allaa ilaaha illallaah wahdahu laa syariikalah wa asyhadu anna muhammadan ‘abduhu wa rasuuluh.

[Segala puji bagi Allah yang hanya kepadaNya kami memuji, memohon pertolongan, dan mohon keampunan. Kami berlindung kepadaNya dari kekejian diri dan kejahatan amalan kami. Barang siapa yang diberi petunjuk oleh Allah maka tidak ada yang dapat menyesatkan, dan barang siapa yang tersesat dari jalanNya maka tidak ada yang dapat memberinya petunjuk. Dan aku bersaksi bahwa tiada sembahan yang berhak disembah melainkan Allah saja, yang tiada sekutu bagiNya. Dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hambaNya dan RasulNya.]


Dianjurkan Banyak Berpuasa di Bulan Muharram

Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam mendorong kita untuk banyak melakukan puasa pada bulan tersebut sebagaimana sabdanya,

أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللَّهِ الْمُحَرَّمُ وَأَفْضَلُ الصَّلاَةِ بَعْدَ الْفَرِيضَةِ صَلاَةُ اللَّيْلِ
“Puasa yang paling utama setelah (puasa) Ramadhan adalah puasa pada bulan Allah - Muharram. Sementara shalat yang paling utama setelah shalat wajib adalah shalat malam.”[1]
An Nawawi -rahimahullah- menjelaskan, “Hadits ini merupakan penegasan bahwa sebaik-baik bulan untuk berpuasa adalah pada bulan Muharram.”[2]

Lalu mengapa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam diketahui banyak berpuasa di bulan Sya’ban bukan malah bulan Muharram? Ada dua jawaban yang dikemukakan oleh An Nawawi.

Pertama: Mungkin saja Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam baru mengetahui keutamaan banyak berpuasa di bulan Muharram di akhir hayat hidup beliau.

Kedua: Boleh jadi pula beliau memiliki udzur ketika berada di bulan Muharram (seperti bersafar atau sakit) sehingga tidak sempat menunaikan banyak puasa pada bulan Muharram.[3]
Ibnu Rajab Al Hambali mengatakan, “Puasa yang paling utama di antara bulan-bulan haram (Dzulqo’dah, Dzulhijah, Muharram, Rajab -pen) adalah puasa di bulan Muharram (syahrullah).”[4]
Sesuai penjelasan Ibnu Rajab, puasa sunnah (tathowwu’) ada dua macam:

Puasa sunnah muthlaq. Sebaik-baik puasa sunnah muthlaq adalah puasa di bulan Muharram.

Puasa sunnah sebelum dan sesudah yang mengiringi puasa wajib di bulan Ramadhan. Ini bukan dinamakan puasa sunnah muthlaq. Contoh puasa ini adalah puasa enam hari di bulan Syawal.[5]

Di antara sahabat yang gemar melakukan puasa pada bulan-bulan haram (termasuk bulan haram adalah Muharram) yaitu ‘Umar, Aisyah dan Abu Tholhah. Bahkan Ibnu ‘Umar dan Al Hasan Al Bashri gemar melakukan puasa pada setiap bulan haram.[6] Bulan haram adalah bulan Dzulqo’dah, Dzulhijah, Muharram dan Rajab.

Puasa yang Utama di Bulan Muharram adalah Puasa ‘Asyura

Dari hari-hari yang sebulan itu, puasa yang paling ditekankan untuk dilakukan adalah puasa pada hari ’Asyura’ yaitu pada tanggal 10 Muharram[7]. Berpuasa pada hari tersebut akan menghapuskan dosa-dosa setahun yang lalu. Abu Qotadah Al Anshoriy berkata,
وَسُئِلَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ عَرَفَةَ فَقَالَ « يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ وَالْبَاقِيَةَ ». قَالَ وَسُئِلَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ عَاشُورَاءَ فَقَالَ « يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ
“Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam ditanya mengenai keutamaan puasa Arafah? Beliau menjawab, ”Puasa Arafah akan menghapus dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang.” Beliau juga ditanya mengenai keistimewaan puasa ’Asyura? Beliau menjawab, ”Puasa ’Asyura akan menghapus dosa setahun yang lalu.”[8]

An Nawawi -rahimahullah- mengatakan, “Para ulama sepakat, hukum melaksanakan puasa ‘Asyura untuk saat ini (setelah diwajibkannya puasa Ramadhan, -pen) adalah sunnah dan bukan wajib.”[9]

Sejarah Pelaksanaan Puasa ‘Asyura[10]

Tahapan pertama: Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melaksanakan puasa ‘Asyura di Makkah dan beliau tidak perintahkan yang lain untuk melakukannya.

Dari ’Aisyah -radhiyallahu ’anha-, beliau berkata,
كَانَ يَوْمُ عَاشُورَاءَ تَصُومُهُ قُرَيْشٌ فِى الْجَاهِلِيَّةِ ، وَكَانَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – يَصُومُهُ ، فَلَمَّا قَدِمَ الْمَدِينَةَ صَامَهُ ، وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ ، فَلَمَّا فُرِضَ رَمَضَانُ تَرَكَ يَوْمَ عَاشُورَاءَ ، فَمَنْ شَاءَ صَامَهُ ، وَمَنْ شَاءَ تَرَكَهُ
”Di zaman jahiliyah dahulu, orang Quraisy biasa melakukan puasa ’Asyura.Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam juga melakukan puasa tersebut. Tatkala tiba di Madinah, beliau melakukan puasa tersebut dan memerintahkan yang lain untuk melakukannya. Namun tatkala puasa Ramadhan diwajibkan, beliau meninggalkan puasa ’Asyura. (Lalu beliau mengatakan:) Barangsiapa yang mau, silakan berpuasa. Barangsiapa yang mau, silakan meninggalkannya (tidak berpuasa).”[11]

Tahapan kedua: Ketika tiba di Madinah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallammelihat Ahlul Kitab melakukan puasa ‘Asyura dan memuliakan hari tersebut. Lalu beliau pun ikut berpuasa ketika itu. Kemudian ketika itu, beliau memerintahkan pada para sahabat untuk ikut berpuasa. Melakukan puasa ‘Asyura ketika itu semakin ditekankan perintahnya. Sampai-sampai para sahabat memerintah anak-anak kecil untuk turut berpuasa.

Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ’anhuma, beliau berkata,
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَدِمَ الْمَدِينَةَ فَوَجَدَ الْيَهُودَ صِيَامًا يَوْمَ عَاشُورَاءَ فَقَالَ لَهُمْ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « مَا هَذَا الْيَوْمُ الَّذِى تَصُومُونَهُ ». فَقَالُوا هَذَا يَوْمٌ عَظِيمٌ أَنْجَى اللَّهُ فِيهِ مُوسَى وَقَوْمَهُ وَغَرَّقَ فِرْعَوْنَ وَقَوْمَهُ فَصَامَهُ مُوسَى شُكْرًا فَنَحْنُ نَصُومُهُ. فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « فَنَحْنُ أَحَقُّ وَأَوْلَى بِمُوسَى مِنْكُمْ ». فَصَامَهُ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ.

“Ketika tiba di Madinah, Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam mendapati orang-orang Yahudi melakukan puasa ’Asyura. Kemudian Rasulullahshallallahu ’alaihi wa sallam bertanya, ”Hari yang kalian bepuasa ini adalah hari apa?” Orang-orang Yahudi tersebut menjawab, ”Ini adalah hari yang sangat mulia. Ini adalah hari di mana Allah menyelamatkan Musa dan kaumnya. Ketika itu pula Fir’aun dan kaumnya ditenggelamkan. Musa berpuasa pada hari ini dalam rangka bersyukur, maka kami pun mengikuti beliau berpuasa pada hari ini”. Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam lantas berkata, ”Kita seharusnya lebih berhak dan lebih utama mengikuti Musa daripada kalian.”. Lalu setelah itu Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam memerintahkan kaum muslimin untuk berpuasa.”[12]

Apakah ini berarti Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam meniru-niru (tasyabbuh dengan) Yahudi?

An Nawawi –rahimahullah- menjelaskan, ”Nabi shallallahu ’alaihi wa sallambiasa melakukan puasa ’Asyura di Makkah sebagaimana dilakukan pula oleh orang-orang Quraisy. Kemudian Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam tiba di Madinah dan menemukan orang Yahudi melakukan puasa ‘Asyura, lalu beliaushallallahu ’alaihi wa sallam pun ikut melakukannya. Namun beliau melakukan puasa ini berdasarkan wahyu, berita mutawatir (dari jalur yang sangat banyak), atau dari ijtihad beliau, dan bukan semata-mata berita salah seorang dari mereka (orang Yahudi). Wallahu a’lam.”[13]

Para ulama berselisih pendapat apakah puasa ‘Asyura sebelum diwajibkan puasa Ramadhan dihukumi wajib ataukah sunnah mu’akkad? Di sini ada dua pendapat:

Pendapat pertama: Sebelum diwajibkan puasa Ramadhan, pada masa tahapan kedua, puasa ‘Asyura dihukumi wajib. Ini adalah pendapat Imam Abu Hanifah, Imam Ahmad dan Abu Bakr Al Atsrom.

Pendapat kedua: Pada masa tahapan kedua ini, puasa ‘Asyura dihukumi sunnah mu’akkad. Ini adalah pendapat Imam Asy Syafi’i dan kebanyakan dari ulama Hambali.[14]

Namun yang jelas setelah datang puasa Ramadhan, puasa ‘Asyura tidaklah diwajibkan lagi dan dinilai sunnah. Hal ini telah menjadi kesepakatan para ulama sebagaimana disebutkan oleh An Nawawi -rahimahullah-.[15]

Tahapan ketiga: Ketika diwajibkannya puasa Ramadhan, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidakmemerintahkan para sahabat untuk berpuasa ‘Asyura dan tidak terlalu menekankannya. Nabishallallahu ’alaihi wa sallammengatakan bahwa siapa yang ingin berpuasa, silakan dan siapa yang tidak ingin berpuasa, silakan. Hal ini sebagaimana dikatakan oleh ’Aisyah radhiyallahu ’anha dalam hadits yang telah lewat dan dikatakan pula oleh Ibnu ’Umar berikut ini. Ibnu ’Umar -radhiyallahu ’anhuma- mengatakan,

أَنَّ أَهْلَ الْجَاهِلِيَّةِ كَانُوا يَصُومُونَ يَوْمَ عَاشُورَاءَ وَأَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- صَامَهُ وَالْمُسْلِمُونَ قَبْلَ أَنْ يُفْتَرَضَ رَمَضَانُ فَلَمَّا افْتُرِضَ رَمَضَانُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « إِنَّ عَاشُورَاءَ يَوْمٌ مِنْ أَيَّامِ اللَّهِ فَمَنْ شَاءَ صَامَهُ وَمَنْ شَاءَ تَرَكَهُ.
“Sesungguhnya orang-orang Jahiliyah biasa melakukan puasa pada hari ’Asyura. Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam pun melakukan puasa tersebut sebelum diwajibkannya puasa Ramadhan, begitu pula kaum muslimin saat itu. Tatkala Ramadhan diwajibkan, Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam mengatakan: Sesungguhnya hari Asyura adalah hari di antara hari-hari Allah. Barangsiapa yang ingin berpuasa, silakan berpuasa. Barangsiapa meninggalkannya juga silakan.”[16]

Ibnu Rajab -rahimahullah- mengatakan, “Setiap hadits yang serupa dengan ini menunjukkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak memerintahkan lagi untuk melakukan puasa ‘Asyura setelah diwajibkannya puasa Ramadhan. Akan tetapi, beliau meninggalkan hal ini tanpa melarang jika ada yang masih tetap melaksanakannya. Jika puasa ‘Asyura sebelum diwajibkannya puasa Ramadhan dikatakan wajib, maka selanjutnya apakah jika hukum wajib di sini dihapus (dinaskh) akan beralih menjadi mustahab (disunnahkan)? Hal ini terdapat perselisihan di antara para ulama.

Begitu pula jika hukum puasa ‘Asyura sebelum diwajibkannya puasa Ramadhan adalah sunnah muakkad, maka ada ulama yang mengatakan bahwa hukum puasa Asyura beralih menjadi sunnah saja tanpa muakkad (ditekankan). Oleh karenanya, Qois bin Sa’ad mengatakan, “Kami masih tetap melakukannya.”[17]

Intinya, puasa ‘Asyura setelah diwajibkannya puasa Ramadhan masih tetap dianjurkan (disunnahkan).

Tahapan keempat: Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bertekad di akhir umurnya untuk melaksanakan puasa Asyura tidak bersendirian, namun diikutsertakan dengan puasa pada hari lainnya. Tujuannya adalah untuk menyelisihi puasa Asyura yang dilakukan oleh Ahlul Kitab.
Ibnu Abbas radhiyallahu ’anhuma berkata bahwa ketika Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam melakukan puasa hari ’Asyura dan memerintahkan kaum muslimin untuk melakukannya, pada saat itu ada yang berkata,
يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّهُ يَوْمٌ تُعَظِّمُهُ الْيَهُودُ وَالنَّصَارَى.
“Wahai Rasulullah, hari ini adalah hari yang diagungkan oleh Yahudi dan Nashrani.” Lantas beliau mengatakan,
فَإِذَا كَانَ الْعَامُ الْمُقْبِلُ - إِنْ شَاءَ اللَّهُ - صُمْنَا الْيَوْمَ التَّاسِعَ
“Apabila tiba tahun depan –insya Allah (jika Allah menghendaki)- kita akan berpuasa pula pada hari kesembilan.” Ibnu Abbas mengatakan,
فَلَمْ يَأْتِ الْعَامُ الْمُقْبِلُ حَتَّى تُوُفِّىَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم-.
“Belum sampai tahun depan, Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam sudah keburu meninggal dunia.”[18]

Menambahkan Puasa 9 Muharram

Sebagaimana dijelaskan di atas (pada hadits Ibnu Abbas) bahwa di akhir umurnya, Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bertekad untuk menambah puasa pada hari kesembilan Muharram untuk menyelisihi Ahlu Kitab. Namun beliau sudah keburu meninggal sehingga beliau belum sempat melakukan puasa pada hari itu.

Lalu bagaimana hukum menambahkan puasa pada hari kesembilan Muharram? Berikut kami sarikan penjelasan An Nawawi rahimahullah.
Imam Asy Syafi’i dan ulama Syafi’iyyah, Imam Ahmad, Ishaq dan selainnya mengatakan bahwa dianjurkan (disunnahkan) berpuasa pada hari kesembilan dan kesepuluh sekaligus; karena Nabishallallahu ’alaihi wa sallamberpuasa pada hari kesepuluh dan berniat (berkeinginan) berpuasa juga pada hari kesembilan.

Apa hikmah Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam menambah puasa pada hari kesembilan? An Nawawirahimahullah melanjutkan penjelasannya.
Sebagian ulama mengatakan bahwa sebab Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam berpuasa pada hari kesepuluh sekaligus kesembilan agar tidak tasyabbuh(menyerupai) orang Yahudi yang hanya berpuasa pada hari kesepuluh saja. Dalam hadits Ibnu Abbas juga terdapat isyarat mengenai hal ini. Ada juga yang mengatakan bahwa hal ini untuk kehati-hatian, siapa tahu salah dalam penentuan hari ’Asyura’ (tanggal 10 Muharram). Pendapat yang menyatakan bahwa Nabi menambah hari kesembilan agar tidak menyerupai puasa Yahudi adalah pendapat yang lebih kuat. Wallahu a’lam.[19]
Ibnu Rojab mengatakan, ”Di antara ulama yang menganjurkan berpuasa pada tanggal 9 dan 10 Muharram sekaligus adalah Imam Asy Syafi’i, Imam Ahmad, dan Ishaq. Adapun Imam Abu Hanifah menganggap makruh jika seseorang hanya berpuasa pada hari kesepuluh saja.”[20]

Intinya, kita lebih baik berpuasa dua hari sekaligus yaitu pada tanggal 9 dan 10 Muharram. Karena dalam melakukan puasa ‘Asyura ada dua tingkatan yaitu:Tingkatan yang lebih sempurna adalah berpuasa pada 9 dan 10 Muharram sekaligus.Tingkatan di bawahnya adalah berpuasa pada 10 Muharram saja.[21]

Puasa 9, 10, dan 11 Muharram

Sebagian ulama berpendapat tentang dianjurkannya berpuasa pada hari ke-9, 10, dan 11 Muharram.
Inilah yang dianggap sebagai tingkatan lain dalam melakukan puasa Asy Syura[22]. Mereka berdalil dengan hadits yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiyallahu ’anhuma. Nabi shallallahu ’alaihi wa sallambersabda,
صُومُوا يَوْمَ عَاشُورَاءَ وَخَالِفُوا فِيهِ الْيَهُودَ صُومُوا قَبْلَهُ يَوْماً أَوْ بَعْدَهُ يَوْماً
“Puasalah pada hari ’Asyura’ (10 Muharram) dan selisilah Yahudi. Puasalah pada hari sebelumnya atau hari sesudahnya.”

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam musnadnya, Ibnu Khuzaimah, Ibnu ’Adiy, Al Baihaqiy, Al Bazzar, Ath Thohawiy dan Al Hamidiy, namun sanadnya dho’if (lemah). Di dalam sanad tersebut terdapat Ibnu Abi Laila -yang nama aslinya Muhammad bin Abdur Rahman-, hafalannya dinilai jelek. Juga terdapat Daud bin ’Ali. Dia tidak dikatakan tsiqoh kecuali oleh Ibnu Hibban. Beliau berkata, ”Daud kadang yukhti’ (keliru).” Adz Dzahabiy mengatakan bahwa hadits ini tidak bisa dijadikan hujjah (dalil).
Namun, terdapat hadits yang diriwayatkan oleh Abdur Rozaq, Ath Thohawiy dalam Ma’anil Atsar, dan juga Al Baihaqi, dari jalan Ibnu Juraij dari ’Atho’ dari Ibnu Abbas. Beliau radhiyallahu ’anhuma berkata,
خَالِفُوْا اليَهُوْدَ وَصُوْمُوْا التَّاسِعَ وَالعَاشِرَ
“Selisilah Yahudi. Puasalah pada hari kesembilan dan kesepuluh Muharram.” Sanad hadits ini adalahshohih, namun diriwayatkan secara mauquf (hanya dinilai sebagai perkataan sahabat). [23]
Catatan: Jika ragu dalam penentuan awal Muharram, maka boleh ditambahkan dengan berpuasa pada tanggal 11 Muharram.

Imam Ahmad -rahimahullah- mengatakan, ”Jika ragu mengenai penentuan awal Muharram, maka boleh berpuasa pada tiga hari (hari 9, 10, dan 11 Muharram, pen) untuk kehati-hatian.”[24]

Sebagai Motivasi

Semoga kita terdorong untuk melakukan puasa Asyura. Cukup ayat ini sebagai renungan. Allah Ta’alaberfirman,

كُلُوا وَاشْرَبُوا هَنِيئًا بِمَا أَسْلَفْتُمْ فِي الْأَيَّامِ الْخَالِيَةِ
“(Kepada mereka dikatakan): “Makan dan minumlah dengan sedap disebabkan amal yang telah kamu kerjakan pada hari-hari yang telah lalu”.” (QS. Al Haqqah: 24)
Mujahid dan selainnya mengatakan, ”Ayat ini turun pada orang yang berpuasa. Barangsiapa meninggalkan makan, minum, dan syahwatnya karena Allah, maka Allah akan memberi ganti dengan makanan dan minuman yang lebih baik, serta akan mendapat ganti dengan pasangan di akhirat yang kekal (tidak mati).”[25] Inilah balasan untuk orang yang gemar berpuasa.
Insya Allah tanggal 9 dan 10 Muharram tahun ini bertepatan dengan tanggal 5 dan 6 Desember 2011.

Semoga Allah memudahkan kita untuk melakukan amalan puasa ini. Hanya Allah yang memberi taufik.
Segala puji bagi Allah yang dengan nikmat-Nya segala kebaikan menjadi sempurna.

Artikel http://rumaysho.com

Thursday, September 12, 2013

BAITI JANNATI~RUMAHKU SYURGAKU

Assalamualaikum wbt.

Innalhamdalillahi nahmaduhu wanasta’iinuhu wanastaghfiruhu Wana’udzubiillah minsyurruri ‘anfusinaa waminsayyi’ati ‘amaalinnaa Manyahdihillah falah mudhillalah Wa man yudhlil falaa haadiyalah Wa asyhadu allaa ilaaha illallaah wahdahu laa syariikalah wa asyhadu anna muhammadan ‘abduhu wa rasuuluh.

[Segala puji bagi Allah yang hanya kepadaNya kami memuji, memohon pertolongan, dan mohon keampunan. Kami berlindung kepadaNya dari kekejian diri dan kejahatan amalan kami. Barang siapa yang diberi petunjuk oleh Allah maka tidak ada yang dapat menyesatkan, dan barang siapa yang tersesat dari jalanNya maka tidak ada yang dapat memberinya petunjuk. Dan aku bersaksi bahwa tiada sembahan yang berhak disembah melainkan Allah saja, yang tiada sekutu bagiNya. Dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hambaNya dan RasulNya.]


Bertemu lagi kita pada hari ini,semoga disempatan yang ada ini kita diberikan oleh Allah swt kekuatan dalam melalui hari-hari mendatang yang penuh dengan onak duri serta cabaran.Sudah menjadi lumrah insan di muka bumi ini tidak lepas daripada melalui kehidupan yang kadangkala berada didalam kegembiraan dan juga kesedihan,semua itu lumrah.kadang-kadang orang dengki dengan kejayaan kita,kadang-kadang orang suka tapi dalam hati bencinya meluap-luap,apa yang boleh saya katakana pada orang yang melalui perkara ini…bersabarlah,kerana Allah swt sentiasa bersama dengan orang-orang yang sabar

Sebagaimana kita menghendaki bentuk yang benar dan hidup bagi Islam dari seorang muslim yang benar aqidahnya, yang benar ibadatnya, yang benar akhlaknya, yang benar sikap dan yang benar segala tindak tanduk dan perkataannya, demikian juga kita menghendaki rumahtangga muslim itu supaya menjadi pusat perlaksanaan segenap ajaran Islam di dalam hidup berkeluarga dengan perlaksanaan yang selamat sejahtera dan teliti.

Kita ingin melihat suami muslim yang memikul tanggungjawabnya terhadap rumahtangganya menurut ketentuan Islam. Kita mahu melihat bapa muslim yang memelihara anak-anaknya dengan adab-adab Islam, memberi kefahaman Islam yang sejati kepada mereka dan mengawasi mereka di segala peringkat hidup mereka. Kita hendak melihat isteri yang muslimah yang menjadikan rumahtangga sebagai taman sari yang memuaskan dan menggembirakan suaminya.

Di dalamnya terdapat hiburan dan keberkatan jauh dari kepayahan dan penat lelah perjuangan dan menolong suaminya mentaati Allah Ta’aala. Alangkah indah dan hebatnya kata-kata yang diucapkan oleh seorang isteri kepada suaminya tatkala dia keluar dari rumahnya waktu pagi:

“Bertaqwalah kepada Allah di dalam urusan kami dan janganlah kekanda memberi kami makanan kecuali yang halal dan baik-baik sahaja”

Kita ingin melihat di dalam rumahtangga muslim ini, ibu muslim yang memelihara anak-anaknya dan membentuk mereka menurut bentuk Islam kerana dialah yang sentiasa berdamping dengan mereka. Inilah risalah, amanah dan tugas para wanita dan isteri yang paling penting yang selama ini cuba dihapuskan oleh musuh-musuh kemanusiaan. Mereka cuba menyelewengkan fakta-fakta ini dari para isteri dengan berbagai-bagai pembohongan dan penipuan dengan tujuan untuk merobohkan bangunan masyarakat.

Kita ingin melihat di dalam rumahtangga muslim itu, putera puteri Islam yang sejati yang memperhambakan diri mereka kepada Tuhan. Mereka taat setia kepada Allah, berbuat baik dan berjasa kepada ibu bapa. Mereka bergaul dengan sahabat-sahabat mereka menurut adab-adab Islam dan tidak lahir dari mulut mereka sepatah perkataan dan sebarang perbuatan yang bertentangan dengan Islam.

Kita mengingini rumahtangga muslim yang memelihara hubungan silaturahim, yang sentiasa mengambil berat urusan kerabat dan menyempurnakan hak-hak mereka. Kita hendak melihat rumahtangga dan keluarga muslim menjadi satu bentuk yang ulung di mana Islam telah terpahat kukuh di dalam diri mereka. Mereka bergaul baik dengan khadam mereka, di mana khadam mereka makan apa yang mereka makan dan berpakaian seperti apa yang mereka pakai dan tidak membebankan sesuatu bebanan di luar kemampuannya. Apabila mereka membebankan sesuatu di luar kemampuannya, mereka menolongnya.

Kita ingin melihat dari rumahtangga muslim itu satu bentuk yang unik sebagaimana yang telah digariskan oleh Islam tentang berbuat baik di dalam bermuamalah dengan jiran. Mereka menyempurnakan hak jiran sebagaimana peranan Rasulullah s.a.w.

Kita menghendaki rumahtangga muslim yang melahirkan contoh teladan yang baik di segala jurusan hidupnya. Dengan fesyen pakaiannya yang Islami, makanan yang halal, minuman yang halal, akhlak yang mulia, sikapnya yang Islami, gaya yang Islami di segala adat dan tradisi di waktu suka dan duka Mereka menjauhi segala unsur-unsur jahiliah, adat-adat dan tradisi jahiliah yang diimport dari luar.

Kita tidak mahu melihat dari golongan sahib-ad-dakwah yang menyeru manusia kepada Allah, yang berjalan di atas jalan dakwah melakukan sebarang kecuaian atau kelalaian di dalam melahirkan serta membina anggota-anggota keluarganya dengan ajaran Islam di dalam sebarang jurusan hidup keluarganya. Sesungguhnya orang yang lemah dalam memimpin rumahtangganya, tidak akan mampu memimpin orang lain apatah lagi rumahtangga orang lain.

Monday, September 2, 2013

TAHNIAH:ANDALAH PASANGAN IDAMAN SI DIA


Assalamualaikum wbt.

Innalhamdalillahi nahmaduhu wanasta’iinuhu wanastaghfiruhu Wana’udzubiillah minsyurruri ‘anfusinaa waminsayyi’ati ‘amaalinnaa Manyahdihillah falah mudhillalah Wa man yudhlil falaa haadiyalah Wa asyhadu allaa ilaaha illallaah wahdahu laa syariikalah wa asyhadu anna muhammadan ‘abduhu wa rasuuluh.

[Segala puji bagi Allah yang hanya kepadaNya kami memuji, memohon pertolongan, dan mohon keampunan. Kami berlindung kepadaNya dari kekejian diri dan kejahatan amalan kami. Barang siapa yang diberi petunjuk oleh Allah maka tidak ada yang dapat menyesatkan, dan barang siapa yang tersesat dari jalanNya maka tidak ada yang dapat memberinya petunjuk. Dan aku bersaksi bahwa tiada sembahan yang berhak disembah melainkan Allah saja, yang tiada sekutu bagiNya. Dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hambaNya dan RasulNya.]


Bertemu lagi kita setelah sekian lama tiada yang terkini dapat saya coretkan disini..hari ni saya ingin berkongsi dengan anda semua diluar sana berkenaan suatu perkara dalam membentuk mukmin perkasa dan keluarga yang bahagia..apakah ya?hmm…mungkin ada yang tertanya-tanya bukan?baiklah mungkin dalam mood lepas raya ni ramai yang akan mendirikan rumah tangga bukan?baiklah dikesempatan yang ada ini,saya ingin anda semua mengambil masa untuk menatap coretan saya pada kali ini…
Tahniah,anda adalah pasangan idaman si dia…berikut adalah ciri-ciri suami dan isteri idaman

Suami idaman

• Berilmu dan sentiasa beribadah
• Bijaksana dan penyabar
• Prinsip hidupnya jelas
• Menghormati dan memuliakan pandangan isteri
• Mengenali dan memahami watak isteri
• Menjadi tempat berlindung dan mengadu isteri
• Memberi nafkah zahir
• Ikhlas mendidik isteri
• Tidak mengungkit-ngungkit tanggungjawab dan pemberiannya
• Menghormati keluarga isteri
• Mengutamakan hak isteri daripada rakan seperjuangan


Isteri idaman

• Bersifat qana’ah- menerima suami seadanya,merasa cukup dan mensyukuri pemberian suami.
• Mendengar dan mentaati perintah suami,selagi perintah itu tidak menyimpang daripada ajaran islam.
• Tidak mempamerkan sesuatu yang buruk pada pandangan suami
• Tidak membiarkan suami mencium bau yang tidak menyenangkan dari dirinya
• Menjaga waktu makan suami,sentiasa menawarkan makanan sebelum dia meminta
• Tidak menggangu waktu tidur dan rehat suami
• Memelihara harta suami
• Menerima kaum keluarga suami
• Memelihara rahsia suami dan rumahtangga
• Sentiasa disisi suami samada suka atau duka
• Mengutamakan kepentingan suami berbanding diri sendiri

SUMBER:PTS ISLAMIKA~hadiah daripada pengantin

Thursday, August 15, 2013

Thursday, August 1, 2013

SELAMAT HARI RAYA EIDUL-FITRI 1434H


Assalamualaikum buat semua pengunjung blog ini,saya ingin mengucapkan selamat menyambut hari raya dan semoga dengan kemeriahan kita meraikan hari yang berbahagia ini akan sentiasa mendekatkan kita kepada Allah swt...insyaAllah amin...

Friday, July 12, 2013

SELAMAT MENJALANI IBADAH PUASA

Alhamduillah segala pujian hanya buatMu Ya Allah kerana pada saat dan ketika ini kita masih diberikan Allah peluang dan ruang untuk saya dan anda semua berkongsi ilmu dalam mengharungi sebuah perjalanan kehidupan yang pastinya belum tentu indah sentiasa,Apa khabar anda semua pada hari ini?Saya harap anda yang sedang kala ini membaca nukilan saya ini berada didalam keadaan yang cukup membahagiakan.Hari ini sudah masuk hari yang ke 3 kita semua berpuasa bukan?Syukur kehadrat Allah swt kerana dengan limpah kurniaNya kita masih berpeluang untuk menjalani ibadah ini sekali lagi pada tahun ini.Semoga dengan kesempatan yang masih ada ini kita gunakan peluang tersebut dengan berpuasa bersungguh-sungguh disamping ibadat yang lain tidak kita tinggalkan.Isilah ruang masa yang ada sewaktu berpuasa ini dengan bersolat berjemaah pada setiap kali masuknya waktu solat fardhu,kemudian bacalah Al-Quran dan banyakkanlah bersedekah kerana pada bulan yang mulia ini setiap amalan kita dilipatganjarkan oleh Allah swt.Marilah kita sama-sama merebut segala nikmat dan kelebihan yang telah Allah swt sediakan sepanjang bulan Ramadan ini.Sekiranya sebelum ini kita rasa seperti sukar untuk melaksanakan amalan-amalan tersebut,cubalah cari sedikit kekuatan untuk menunaikannya.Selain itu penuhilah malam bulan Ramadan dengan melakukan solat tarawih biarpun ia hanyalah sekadar sunat namun ia amat dituntut untuk dikerjakan sepanjang bulan ini.Akhirkata semoga anda semua dapat menjadikan Ramadan yang tiba kali ini sebagai Ramadan yang terbaik pernah kita lalui…insyaAllah..

Wednesday, June 5, 2013

GAJET LAKNAT SATU PETAKA DI SEBALIK KEMUDAHAN

Assalamualaikum wbt.

Innalhamdalillahi nahmaduhu wanasta’iinuhu wanastaghfiruhu Wana’udzubiillah minsyurruri ‘anfusinaa waminsayyi’ati ‘amaalinnaa Manyahdihillah falah mudhillalah Wa man yudhlil falaa haadiyalah Wa asyhadu allaa ilaaha illallaah wahdahu laa syariikalah wa asyhadu anna muhammadan ‘abduhu wa rasuuluh.

[Segala puji bagi Allah yang hanya kepadaNya kami memuji, memohon pertolongan, dan mohon keampunan. Kami berlindung kepadaNya dari kekejian diri dan kejahatan amalan kami. Barang siapa yang diberi petunjuk oleh Allah maka tidak ada yang dapat menyesatkan, dan barang siapa yang tersesat dari jalanNya maka tidak ada yang dapat memberinya petunjuk. Dan aku bersaksi bahwa tiada sembahan yang berhak disembah melainkan Allah saja, yang tiada sekutu bagiNya. Dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hambaNya dan RasulNya.]


Alhamdulillah,bersyukur kita kehadrat Allah swt.kerana pada saat dan waktu yang masih bersisa kita dapat meminjam sebentar kurniaan Allah swt bernama udara.Ya udara itu adalah pinjaman daripada Allah swt,bukan itu sahaja apa yang ada didunia ini adalah pinjaman daripadaNya dan pada bila-bila masa sahaja ia akan kembali kepada Yang Maha Esa.Hari ini kita mungkin bisa ketawa riang gembira,siapa tahu esok lusa kita akan bersedih samada meratapi sebuah kehilangan atau menangisi pemergian orang yang tersayang.Hidup ini telah diatur dengan rapi oleh Allah swt dengan qada dan qadarNya maka kita sebagai hambaNya seharusnya redha menghadapinya,namun kadangkala Allah juga berikan kita pilihan untuk mengubah sesuatu perkara,seperti mengubah kehidupan kita yang sukar kepada keaadaan yang lebih baik.sesuai dengan
FirmanNya bermaksud “Allah tidak akan mengubah kehidupan sesuatu kaum melainkan kaum itu sendiri berusaha untuk mengubahnya”.
Al-Ra'd ayat 11

Baiklah terlebih dahulu saya ingin mengajak anda semua muhasabah diri sebentar,apakah hari ini kita sudah menunaikan amalan-amalan wajib?bagaimana dengan solat lima waktu kita,apakah pula dengan dengan amalan-amalan sunat kita seperti solat dan puasa?apakah hari ini kita sudah membaca Al-Quran?berapa banyak ayat kita sudah baca ya?Apakah kita masih leka dengan gajet-gajet laknat yang sering melalaikan kita daripada mengingati Allah swt?Apakah gajet-gajet itu akan membantu kita saat kita diperhitungkan di padang mahsyar nanti?Sesungguhnya islam itu tidak menolak kemajuan namun berpada-padalah dalam menggunakannya.Janganlah sebab gajet sekecil GALAXY NOTE itu akan menjerumuskan kita ke dalam api neraka.dengan gajet sekecil itu membuatkan kita leka dan lalai daripada mengingati Allah swt.Nauzubillah sesungguhnya kita termasuk diantara orang-orang yang teramat rugi.Apakah perlu dengan gajet seperti itu kita aplikasikan didalam kehidupan kita sebagai seorang yang beragama islam?mungkin lebih baik dengan duit yang kita laburkan untuk gajet tersebut kita salurkan kepada badan-badan yang membantu umat islam diseluruh negara.Atau pun lebih baik kita gunakan untuk membeli senaskah Al-quran yang mungkin harganya tidak semahal gajet laknat yang kita miliki.Mungkin ada yang tidak sependapat mungkin dengan pandangan saya ini.namun percayalah satu hari nanti anda pasti akan berasa apa yang saya katakana ini ada betulnya.

Hari ini saya lihat kita semakin hanyut dibuai dengan pelbagai teknologi yang membuatkan kita terus alpa daripada jalan dakwah.Semakin ramai belia dan anak remaja kita leka dengan gajet-gajet terkini.Saya lihat juga bukan anak muda sahaja tapi arus ini juga melanda orang tua.Mengapa hal ini berlaku?Seharusnya sebagai orang yang lebih tua,mereka seharusnya menunjukkan contoh terbaik buat anak-anak mereka.Saya amat risau dengan generasi yang bakal memimpin umat islam nanti,Semoga keturunan saya nanti dijauhkan dari segala kemusnahan yang bisa meruntuhkan akidah ini.

Kesimpulannya,saya harap anda yang membaca blog saya ini,bisa membuat pilihan yang bijak dalam menggunakan sesebuah teknologi.Saya tidak menghalang anda untuk memiliki gajet-gajet terkini yang berada dipasaran,Cuma saya minta berfikir seketika,apakah ia sekadar keperluan atau untuk menunjuk-nunjuk dan bermegah-megah kepada orang lain?pilihan ditangan anda sendiri….di antara dua anak muda yang memegang gajet terkini atau anak muda yang yang memegang Al-quran yang kian lusuh dibacanya mana satu agaknya lebih berilmu dan banyak pahalanya?